Abdimas – Umsida Turun Berikan Motivasi dan Bantu Peningkatan Usaha Mikro

Suasana rapat koordinasi yang telah dilakukan Abdimas-Umsida. as

Sidoarjo Pos-Masih banyaknya usaha-usaha mikro perorangan yang belum mampu meningkatkan hasil produksinya, serta masih kurang menariknya penampilan/display tempat jajanan atau tempat penjualannya, sehingga kurang dilirik oleh pembeli, utamanya yang ada di wilayah Sidoarjo.

         Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) telah menurunkan Tim Abdimas (Pengabdian Masyarakat) untuk memberikan bimbingan dan pembinaan, maupun bantuan sarana percepatan pengolahan produksi kepada usaha-usaha mikro tersebut.

          Ketua Abdimas-Umsida Ribangun Bamban Jakaria, ST, MM usai rapat koordinasi dengan anggotanya Ir. Arief Wicaksono, MM dan Chylen Setiyorini, S.Si, M.Si menerangkan kalau Abdimas ini telah melakukan pembinaan untuk peningkatan kualitas produksi dan pemasarannya.

          Pihaknya juga telah memberikan sarana percepatan pembuatan kue/pastel, yang mana kue isinya harus melakukan pencacahan/dipotong kecil-kecil terhadap salah satu bahannya, yakni wortel. Dalam melakukannya secara manual akan membutuhkan waktu yang lama, dan bentuknya juga tidak akan sama. “Sehingga akan memperlambat proses pembuatnnya. Efeknya, pengusaha mikro tadi tidak bisa memenuhi kebutuhan pemesannya. Kalau sudah seperti itu kondisinya, kasihan untuk menolak pemesan. Padahal bahan pembuatan kuenya juga tidak sulit,” terang Ribangun.

            Oleh karena itu, dengan hadirnya Abdimas-Umsida ini mereka sangat terbantu. Karena kami juga memberikan sarana/alat untuk mempercepat pencacahan wortel tersebut. “Dengan satu kali sentuhan, wortel sudah terpotong kecil-kecil dengan ukuran yang sama. Setelah melakukan proses itu, mereka bisa melayani berapapun banyaknya pemesan. Adapun dana yang digunakan merupakan program Hibah Dana Umsida,” jelas Ribangun saat ditemui Kamis,(15/12/2016).

           Selain itu, Ia juga telah melakukan pembinaan atau penataan/display tempat penjualan salah satu usaha mikro makanan ‘horok-horok’, dalam penataannya belum memenhi memenuhi kaidah penualan. Akhirnya mereka kami bantu untuk melakukan penataan, walaupun senderhana tetapi bisa enak dipandang mata. “Jadi program kami ini untuk membantu para usaha mikro yang sudah berjalan, tetapi mereka kurang berinovasi dengan baik. Kurang memperdulikan kondisi penataan jajanannya, bagaimana bisa di display dengan baik, sehingga diminati pembeli,” tambah Arief Wicaksono. as

Komentar