Belum Siap Secara Psikologis Pelajar Sidoarjo Sepakat Tolak Pernikahan Dini

Para pelajar SMAN 1 Sidoarjo dan SMKN 1 Buduran bersama-sama menolak pernikahan ini. as

Sidoarjo Pos-Banyaknya hashtag ajakan pernikahan dini yang beredar secara luas dan cepat di Sosmed, disikapi langsung oleh para remaja/pelajar Sidoarjo, yakni dengan melakukan penolakan secara bersama-sama. Penolakan mereka para pelajar SMA Negeri 1 Sidoarjo dan SMK Negeri 1 Buduran dikemas dalam Sosialisasi Pembangunan Keluarga Bersama Mitra oleh BKKBN Jawa Timur.

Usai orasi menolak pernikahan dini, Mayang Pramesti siswi kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Sidoarjo dengan tegas mengatakan  usia juga menentukan faktor psikologis seseorang untuk menyelesaikan masalah. Sehingga  pernikahan dini masih belum siap untuk menjalani rumah tangga yang beragam macamnya. “Diantaranya biaya hidup sehari-hari, untuk anak, untuk sekolah anak dan membesarkan anak kedepannya seperti apa, ini juga harus memerlukan pemikiran yang matang,” kata Mayang Pramesti, kemarin(7/11/2018).

Menurutnya, efek dari pernikahan dini adalah ibu yang melahirkan akan mengalami sindrum, karena dunianya atau masa remajanya akan dirembut oleh anaknya. Artinya masih senang dengan masa remaja yang penuh dengan keceriaan, tetapi mereka sudah harus merawat bayi, dan menyiapkan keperluan rumah tangganya.”Karena sejatinya ibunya itu masih anak-anak atau remaja yang  senang menikmati masa keceriaannya itu,” jelas Mayang Pramesti yang juga sebagai Wakil Ketua Duta Anti Narkoba Sidoarjo (DANS) ini.

Plt. Kepala SMA Negeri 1 Sidoarjo Sri Mujayanti menuturkan kalau pihak sekolah selalu mendukung kegiatan atau aktivitas anak-anaknya. Selama itu kegiatannya positif dan bermanfaat untuk mereka. Apalagi kegiatan seperti ini, sosialisasi Genre Ceria yang dilakukan oleh BKKN Jawa Timur dan Dinas PMD P3A KB Sidoarjo ini sangat perlu dan bermanfaat sekali bagi anak-anak. “Jadi anak-anak yang mempunyai bakat apapun, sebisa mungkin terus kami kembangkan di sini, termasuk sarana dan prasarana yang memadai pula,” tutur Sri Mujayanti.

Sementara Kabid Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Jatim Suhartuti mengakatan sosialisasi melalui program Genre Ceria ini memberikan edukasi dan pemahaman kepada seluruh para pelajar di seluruh 38 Kabupaten/Kota se Jawa Timur. Hal tersebut merupakan salah satunya cara untuk menekan angka pernikahan dini tidak semakin meningkat. “Karena pernikahan tidak saja dihalalkan, namun juga tanggung jawab dalam menjadi keluarga perlu pemikiran yang matang,” katanya.

Disamping itu, besarnya jumlah angka pernikahan dini yang disebabkan kecelakaan membuat anggota Komisi IX DPR RI Lucy Kurniasari merasa prihatin. Pihaknya mendorong sosialisasi bersama mitra kerja BKKBN agar dilaksanakansecara terus menerus. “Karena langkah sosialisasi tersebut sangat bermanfaat agar para remaja tidak terjebak dalam pernikahan dini,” jelasnya. as

Komentar