Hari Batik Nasional: Pengrajin Batik Sidoarjo Terus Berupaya Bangkitkan Usahanya

Putri Pariwisata Indonesia, Revindia Carina saat melihat Batik Sidoarjo di Rumah Batik Al Huda. agi

Sidoarjo Pos-Bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh tanggal 2 Oktober 2020 sekarang, para pengrajin batik Sidoarjo terus mengalami keterpurukan. Dimasa pandemi ini omsetnya turun 60 persen, bahkan hingga 90 persen. Dalam kondisi tersebut, mereka terus berusaha bangkit memulihkan usahanya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Perajin Batik Sidoarjo (Pabis) Ir. Nurul Huda yang juga sebagai pemilik Rumah Batik dan Work Shop Al Huda di Perumahan Sidokare Asri Sidoarjo.

Ia bersama anggotanya yang jumlah hingga ratusan pengrajin, sekarang yang masih aktif hanya sekitar 50 pengrajin. Itupun mereka masih dalam kondisi terpuruk, bahkan minta pekerjaan kepada teman-teman yang masih bisa bangkit. “Kalau saya kebetulan sudah mempunyai program dan mendapatkan order yang lumayan banyak sebelum ada pandemi Covid-19. Alhamdulillah hingga sekarang masih jalan, masih lumintu, bahkan kami juga tidak sampai merumahkan karyawan,” ungkapnya, (1/10/20) kemarin.

Pada intinya, yang penting kita bisa kompak dan bisa koordinasi yang baik dengan teman-teman yang lain. Saling mengisi, saling bertukar pikiran mencari solusi bagaimana caranya agar kita tetap bangkit. “Saya yakin semuanya pasti akan bisa pulih seperti semula, harus kita lakukan dengan sabar dan telaten, “ terangnya.

Ia juga berharap kepada pemerintah setempat, mestinya pemerintah itu membantu para pengrajin Batik Sidoarjo. Minimal dengan menganjurkan para pegawainya untuk memakai batik karya asli pengrajin Sidoarjo. Kalau ASN dalam seminggu memakai batik dua kali, mungkin ada kebijakan dari Pimpinan Pemkab Sidoarjo untuk memakai pakaian batik buatan dari Sidoarjo sendiri. “Memang setiap orang mempunyai selera sendiri-sendiri. Tapi kualitas batik Sidoarjo juga tidak kalah dengan batik-batik yang lain,” harapnya.

Ia juga berkeyakinan kalau kondisi batik di Sidoarjo ini sudah membaik.Terbukti dari hasil penjualannya selama setahun bisa mencapai omset  milyaran. Ini kondisi pengrajin seperti saya, belum termasuk teman-teman anggota paguyuban yang lain. “Tentu saja mereka juga lebih bagus omsetnya, karena batik mereka juga bagus-bagus, ” pungkas  Nurul Huda. agi

Komentar