Jangan Sampai Terjadi Erosi Bahasa, Balai Bahasa Jatim Bergerak Melestarikan Bahasa Ibu

Kepala Balai Bahasa Jatim Asrif sedang memberikan penghargaan kepada Putri Nurul Azizah. agi

Sidoarojopos-Bahasa Ibu, terutama Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang terkuat di dunia, karena jumlah penuturnya sangat banyak. Di atas rata-rata bahasa daerah di Indonesia bahkan bisa se Asia.

“Walaupun demikian, kalau tidak dikawal bisa terjadi erosi bahasa di dalam tanpa berjalan senyap,” ungkap Kepala Balai Bahasas Provinsi Jawa Timur Dr. Asrif, M.Hum usai acara penyerahan penghargaan Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2021, pada (16/3/2021) lalu.

Jadi kita tidak mau setelah bahasa ini sakit, baru kita bergerak. Bahasa Jawa itu sangat baik, dan baiknya itu karena dijaga. Kondisi sekarang orangtua sudah mengatakan kalau kondisi ini harus dijaga. “Pertanyaannya apakah generasi muda kita sudah pernah mengatakan hal yang sama. Hal itulah yang harus dijawab oleh mereka sendiri. Oleh karena itu kita dekatkan, kita perkenalkan mereka dengan lomba-lomba. Yang berfungsi merangsang mereka untuk melindungi bahasanya, ” katanya.

Ia katakan, dalam penelitian, diperkotaan generasi mudanya mengalami kemunduran, termasuk di daerah pesisir juga terdesak oleh bahasa-bahasa yang lain. Kondisi inilah yang harus menjadi perhatian bersama untuk dilestarikan, bahwa Bahasa Jawa itu statusnya aman. Kalau bahasa asing tidak terlalu kuat untuk menggesernya. “Tetapi bahasa daerah lainnya yang justru lebih kuat, karena biasa dipakai dalam pergaulan setiap hari. Termasuk

Bahasa Indonesia, makanya perlu dijaga keseimbangannya,” tegas Asrif.
Lanjutnya, dalam kegiatan tertentu di luar rumah menggunakan bahasa formal Bahasa Indonesia tidak masalah. “Tetapi ketika di dalam rumah harus menggunakan bahasa daerah, jangan sampai di perkumpulan keluarga menggunakan Bahasa Indonesia. Kondisi ini akan mengurangi ruang hidupnya Bahasa Jawa. Jadi literasi bahasa harus dikuatkan bukan kepada generasi muda saja tetapi juga kepada orang tuanya. Karena erosi bahasa itu penyebabnya bukan dari anak, tetapi lemahnya penguatan dari orang tua,” tandas Asrif.

Juara pertama video kreatif Putri Nurul Azizah dari SMAN 1 Srono Banyuwangi bercerita tentang penggunaan tiga bahasa dalam pergaulannya sehari-hari, yakni Bahasa Jawa, Bahasa Madura dan Bahasa Osing. “Jika di lingkungan sekolah menggunaan Bahasa Jawa, di rumah menggunakan Bahasa Madura dan di luar rumah bergaul dengan teman-teman menggunakan Bahasa Osing,” katanya.

Jadi ide cerita itu yang kami alami sendiri, dari lingkungan kami sendiri dan juga kami alami sendiri. “Saya ingin menunjukkan kalau di Banyuwangi itu masih sangat melestarikan bahasa daerah,” ungkap Putri Nurul Azizah. agi

 

Komentar