Kurang Perhatian, Kesenian Reog di Sidoarjo Mulai Punah

Sidoarjo, Pelaku seniman yang terdapat di wilayah Sidoarjo mengeluh, karena hingga ini belum pernah sekalipun mendapat perhatian maupun pembinaan dari Pemkab Sidoarjo. Khususnya dinas yang menaunginya, yakni Disporabudpar (Dinas Pemuda Olah Kebudayaan dan Pariwisata) Sidoarjo, agar seniman-seniman Sidoarjo tidak semakin punah

            Kondisi tersebut dialami Paguyuban Reog Ponorogo di Sidoarjo, dari 10 paguyuban yang ada, sekarang hanya tinggal tiga paguyuban yang masih eksis. Ketua Paguyuban Reog Ponorogo di Sidoarjo AKB Syamsul Hadi, Selasa(07/06/16) mengeluhkan karena para seniman, khususnya reog tidak pernah mendapat pembinaan dari pemerintah daerah. Kami berjuang sendiri, mengelola sendiri hingga membangun generasi penerus juga sendiri.

Apalagi dalam kondisi jaman yang sudah modern ini, memang sangat sulit untuk mengajak masyarakat bergabung dalam kesenian tradisional. Berbagai upaya dan inovasi dan kreasi terus kami lakukan, sehingga jumlah anggota kami yang tergabung dalam reognya, ‘Singo Menggolo’ ada sekitar 50 personil. “Padahal waktu mendirikan tahun 2.000 yang lalu hanya lima orang, itupun mencari-cari orang dari teman luar kota yang masih peduli terhadap reog,” kenang Syamsul Hadi.

            Saya berharap kepada pemerintah daerah, provinsi ataupun pusat hendaknya juga peduli terhadap kesenian tradisional, agar mereka tidak punah. Caranya, setiap ada kegaiatan, kesenian tradisional itu juga harus ditampilkan. Jangan yang modern-modern saja, karena kesenian tradional ini juga mempunyai sejarah peradaban bangsa.

            Jika banyak yang ‘nanggap’ otomatis pemerintah juga membantu ekonomi para pemain reog ini. Karena saya telah mengajak  mereka untuk bergabung kesenian, utamanya anak-anak pengangguran dan putus sekolah. “Agar mereka tidak bertambah nakal lagi, akhirnya kami ajak untuk bergabung,” ujar Syamsul Hadi yang juga sebagai Humas Polres Sidoarjo.

            Ia berharap Pemkab Sidoarjo merasa peduli dengan kesenian-kesenian tradisonal yang ada. Jadi saya sangat kasihan dengan teman-teman seniman Sidoarjo. “Dari 10 kelompok reog, sekarang hanya tinggal tiga. Itupun jarang sekali yang ‘nanggap,’ artinya warga kurang peduli, termasuk pemerintahnya juga,” keluh Syamsul Hadi. as

Komentar