Pengrajin Batik Protes Pernyataan Pemkab

Nurul Huda saat menunjukkan batik asli buatan Sidoarjo dari hasil karyanya.as

Sidoarjo, Sekitar 50 pengrajin batik yang tergabung tergabung dalam Paguyuban Batik Sidoarjo memprotes keras atas pernyataan Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag dan ESDM Sidoarjo Yayuk Puji Rayahu SH MH, muat di Harian Bhirawa berjudul ‘Bantu Pengrajin Batik, PNS Sidoarjo Pakai Batik’ tanggal 25 Mei 2016.

Ketua Paguyuban Batik Sidoarjo Ir. R. Nurul Huda, M Agr, pada(3/5/2016) menjelaskan kalau ada statemen ‘empat hari memakai pakaian batik, mungkin ada kebijakan dari pimpinan Pemkab Sidoarjo, untuk sehari saja memakai pakaian batik buatan dari Sidoarjo sendiri’.

Menurutnya, pernyataan seperti itu sama saja dengan membunuh atau mematikan para pengrajin yang ada di Sidoarjo ini. Mestinya jangan seperti itu dibebaskan saja, beli batik asli Sidoarjo atau beli batik luar Sidoarjo silahkan saja. “Setiap orang mempunyai selera sendiri-sendiri. Jadi jangan dibatasi harus ada kebijakan sehari saja memakai pakaian batik buatan Sidoarjo,” katanya.

Ia juga mengaku sudah dipercaya oleh Bupati Sidoarjo yang masih dijabat Win Hendrarso untuk memberikan semangat serta memulihkan para pengrajin itu bisa bangkit kembali. “Dari mulai 18 orang pengrajin di tahun 2009, terus saya semangati dengan sabar dan telaten hingga saat ini sudah meningat hingga sekitar 50 orang,” ujarnya.

Padahal, bagian-bagian lain dari SKPD Sidoarjo termasuk Disperindag sendiri juga ikut membina dan memotivasi para pengrajin batik agar bisa bangkit kembali. “Disisi lain,Kepala Bidang Perindustrian, Bu Yayuk malah menginginkan kebijakan pimpinan untuk membatasi PNS sehari saja memakai pakaian batik asli Sidoarjo,”  keluh Nurul Huda.

Jadi saya memohon agar yang memberikan pernyataan seperti itu supaya ditarik atau meralat kembali pernyataan tersebut. Karena saya sudah mendapat keluhan dari para pengrajin mengapa orang Pemkab yang notabene membidangi industri sampai tega melakukan pernyataan seperti itu. “Sekali lagi saya berharap diralat pernyataan tersebut, kasihan para pengrajin yang sudah mulai bangkit ini, kawatir akan sangat berpengaruh terhadap produksinya,” tegas pemilik rumah batik Al Huda ini.

Ia juga berkeyakinan kalau kondisi batik di Sidoarjo ini sudah membaik.Terbukti dari hasil penjualannya selama setahun bisa mencapai omset Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar. Ini kondisi pengrajin seperti saya, belum termasuk teman-teman anggota paguyuban yang lain. “Tentu saja mereka juga lebih bagus omset, karena batik mereka juga bagus-bagus. Oleh karena itu, sekali lagi saya mohon diralat pernyataan tersebut,” pungkas Pak Huda sambil memilah-milah hasil karyanya. as

Komentar