Ponpes Al Hamdaniyah Punya Tradisi Ngaji Kitab Kuning di Kamar KH Hasyim Asy’ari

Para santri Al Hamdaniyah sedang mengaji kitab kuning di kamar khusus KH. Hasyim Asy'ari. as

Buduran, Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hamdaniyah Desa Siwalanpanji Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sejak lama sudah mempunyai tradisi tersendiri dalam memperingati Nuzulul Qur’an.  Yakni  belajar membaca dan memaknai kitab kuning di kamar pribadi KH Hasyim Asy’ari.

            Pengasuh Ponpes Al Hamdaniyah, Gus Sofwan Hadi menuturkan kalau pembelajaran kitab kuning ini sudah berlangsung sejak lama hingga saat ini, selalu diajarkan oleh penerus Ponpes Al Hamdaniyah  ini. Para santri mendapatkan ilmu kitab kuning di ruangan pribadi Hadratusy Syaikh, lantaran untuk memperingati Nuzulul Qur’an atau turunnya kitab suci Al-Qur’an.

            Oleh karena itu, para santri selalu mempelajari sejumlah kitab kuning yang terdiri dari Fiqih/Tafsir dan pelajaran bahasa Arab atau Nahwu Saraf. “Pembelajaran ini adalah peninggalan dari KH Hamdani dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU untuk diamalkan ke seluruh santri,” ungkap cicit dari Kiai Abdul Rohim putra KH Hamdani pendiri ponpes Al Hamdaniyah, saat ditemui (22/06/2016).

            Menurutnya,  kalau malam Lailatul Qadar yang biasanya di peringati pada hari ke 17 Ramadhan itu, merupakan hari yang bersejarah dalam perjalanan kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an sendiri diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi tercinta kita Muhammad SAW dan peristiwa ini disebut dengan Nuzulul Qur’an.

            Ia menerangkan kalau Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Al-Qur’an adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting mengenai penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad saw. “Sedangkan turunnya Al-Qur’an adalah  sebuah penegasan atas kemuliaannya dan sekaligus yang menerimanya yaitu Nabi Muhammad. Tetapi juga harus diiringi semangat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah serta mempelajari menghayati dan belajar mengamalkannya,” terangnya.

            Oleh sebab itu, Nuzulul Qur’an harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mempelajari Al-Qur’an dan semua ajaran Nabi. “Dengan memperingati Nuzulul Qur’an berarti sesungguhnya siap kembali menghidupkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi,” pungkas Gus Sofwan Hadi. as

Komentar