Ratusan Siswa dan Dewan Guru SMAMITA Menyaksikan Film Inspirasi ‘Nyai Dahlan’

Para siswa-siswi dan guru serta karyawan SMAMITA saat menyaksikan pemutaran Film Nyai Dahlan. as

Sidoarjo Pos-Sebagai pembelajaran di luar sekolah, atau untuk memberikan inspirasi kepada siswanya. Sebanyak 606 siswa dan siswi serta 38 guru dan karyawan SMA Muhammadiyah I Taman (SMAMITA), Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo telah melakukan pembelajaran di luar ruang kelas.

Mereka nonton Film Nyai Dahlan secara bersama-sama ke Studio Cinema 21 City Of Tomorrow (Cito) Waru, Kabupaten Sidoarjo. Pihak sekolah tidak hanya menggunakan satu studio. Akan tetapi, dari 5 studio yang ada di Cinema 21 itu, yang digunakan 4 studio. Yakni Studio 2, 3, 4 dan Studio 5.

Bahkan sejumlah guru mengalah duduk di tangga naik kursi penonton film itu. “Ini salah satu pembelajaran di luar kelas, yakni melihat Film Nyai Dahlan yang penuh inspiratif perjuangan perempuan sesuai pelajaran Sejarah dan Kemuhammadiyahan,” tutur Kepala SMAMITA, Zainal Arif Fakhrudi, Senin (28/08/2017).

Selain itu, pria yang akrab dipanggil Pak Arif ini menguraikan pemutaran Film Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya sesuai dengan mata pelajaran Kemuhammadiyahan, akan tetapi juga karena siswa, siswi, guru dan karyawan sangat mencintai Muhammadiyah. Menurutnya, siswa dapat belajar perjuangan tokoh Muhammadiyah dalam kemajuan bangsa serta penyetaraan gender. “Hari ini semua pelajaran kelas dipindah di mall. Karena siswa dan siswi juga diminta meresume film itu, agar mengerti dan memahami artikulasi perjuangan Nyai Dahlan yang sudah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional itu,” terangnya.

Salah seorang pelajar, Zulfa Anida mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan melihat film perjuangan kaum perempuan itu. Siswa kelas 12 IPA 3 ini menilai film itu mengajak perempuan ikut berjuang dan adanya kesetaraan gender. Salah satunya perempuan harus menuntut ilmu tidak hanya sekedar mengerjakan pekerjaan rumah.

“Film dokumenter ini sangat memberi inspirasi (inspiring) untuk makin giat belajar dan mendukung pelajar menuntut ilmu secara maksimal. Karema dulu sekolah susah tokoh Muhammdiyah masih mau sekolah. Sekarang sekolah mudah harus maksimal,” ungkapnya. as

Komentar