Sambut Hari Pahlawan SPJ 2 Sidoarjo Gelar Drama Kolosal Unik

Sidoarjo Post-Ada pandangan yang berbeda di lingkungan SPJ (Sekolah Pembangunan Jaya) 2 Sidoarjo, Jum at(9/11/2018) tadi pagi. Tidak seperti biasanya, para siswa-siswa memakai pakaian ala tentara Jepang tahun 1945, ada yang bergaya ala tentara sekutu dengan rambut pirang dan busana ala meneer.  Tak mau ketinggalan para siswinya juga berdandan bak perawat masa perjuangan, dengan rambut digelung cantik dalam balutan busana merah putih.
Ketua Kegiatan Dewi Masyithoh, M. Pd menuturkan, bahwa kami hari ini berkumpul semua, mulai dari unit TK, SD, SMP hingga SMA, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. “Kami ingin anak-anak selalu ingat akan jasa para pahlawan dan sejarah bangsa Indonesia, “ tutur Dewi Masyithoh.
“Selain memperingati Hari Pahlawan, acara ini juga merupakan salah satu wadah bagi kecakapan anak didik kita di luar bidang akademis,” tambah Dewi Masyithoh yang juga menjabat Kepala Sekolah SMP Pembangunan Jaya 2.
Sang Sutradara Drama Kolosal SPJ 2, Sidoarjo, Beti Astuti mengatakan kalau sekitar 120 siswa-siswi dari TK s/d SMA yang ambil peran. Sedang siswa-siswi lainnya berserta orang tua walimurid memenuhi dan meyaksikan drama kolosal dari tribun MPH sekolah.
Menurutnya, tampilan drama ini mirip dengan ‘Soerabia Membara’ ala siswa-sisiwi SPJ2. Jadi terbilang memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari senjata yang digunakan hingga bambu runcing semuanya terbuat dari berbagai macam kertas bekas (recyled). Begitu pula dengan kendaraan jeep Jendral Mallaby dan pesawat tempur yang menggempur Kota Surabaya waktu itu, keduanya menggunakan karton bekas yang ada di lingkungan sekolah. “Properti-properti unik tersebut semakin membuat tampilan siswa-siswi terasa beda,” katanya.
Lanjutnya, para siswa dan orangtua sangat antusias menikmati drama yang mengusung, ‘Semangat Joeangku Membara Bagi Indonesia’ yang menampilkan rangkaian peristiwa-peristiwa bersejarah di Surabaya pada masa kemerdekaan.
“Mereka mampu membawakan peran dengan apik. Sebut saja anak-anak TK dan SD kelas kecil yang mendapat bagian peran menggambarkan suasana Surabaya pada masa tersebut lengkap dengan jenis permainan tradisional yang ada. Begitu pula dengan peran Bung Tomo, ikon pahlawan dari Surabaya dan Jendral AWS Mallaby yang masing-masing diperankan dengan bagus oleh IB Danishwara (siswa Kelas VIII) dan Abian Arasi (siswa kelas XII). Tak hanya suasana peperangan yang ditampilkan, sentuhan puisi yang dibawakan oleh Anne (siswi kelas XI) dalam balutan iringan musik biola memberikan ending yang epik pada drama kolosal mereka,” tutup Beti Astuti. as

Komentar