Weny Indrasari Menyulap Kertas Bekas Sak Semen Menjadi Tas Cantik

Weny Indrasari sedang menunjukkan hasil karyanya.tria

Sidoarjo Pos-Berkat tangan terampil, sesuatu yang awalnya tidak berguna  bisa diubah menjadi sesuatu yang mempunyai nilai seni dan ekonomi. Contohnya seperti yang dilakukan pasangan Sutyono (47) dan Weny Indrasari (47). Mereka menyulap kertas bekas kantong semen (sak) menjadi aneka  tas dan dompet yang cantik.

Saat di temui dirumahnya, Perumahan Tanggulagin Anggun Sejahtera (Perumtas) 2 Blok R, Weny terlihat membuat pola di atas kertas sak semen. Sedangkan sang suami, Sutyono sedang membersihkan sak semen yang baru saja diterima dari salah seorang pemasok. “Usaha yang saya tekuni berawal dari ketidaksengajaan,” ujar Weny.

Disaat merenovasi rumah,  sang suami merasa ’eman’ melihat tumpukan kertas sak semen terbuang begitu saja. Yono, panggilan akrab Sutyono, ingin memanfaatkan kertas sak semen yang tidak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai. Setelah bertanya kepada tetangganya yang kebetulan seorang perajin tas kulit, pasangan ini memulai langkah membuat tas dan dompet berbahan dasar sak semen dengan merek R3 Viora.

Nama Viora  berasal dari gabungan kedua anak mereka. Silvia, yang akrab dipanggil Vio dan Raditya yang biasa disapa Radit. Pembuatan dompet dan tas berbahan dasar kertas semen bertepatan dengan agenda Pemkab Sidoarjo di   Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin pada bulan Desember 2010. Even tahunan ini salah satunya melombakan kreasi daur ulang sampah merupakan motivasi awal mereka. Tak disangka, produk daur ulang yang saat itu mereka pamerkan mendapat sambutan menggembirakan. Beberapa produknya terjual dan dipesan. Dan tak disangka pula mereka berhasil meraih juara lomba daur ulang.

Dari situlah, Yono dan Weny lebih bersemangat untuk mengembangkan usahanya. Berbagai pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dihelat di berbagai kota pernah diikutinya. Mereka menjual aneka tas berbahan kertas semen kreasinya antara Rp 5 ribu sampai Rp 95 ribu.  “Pelan tapi pasti, pesanan mulai berdatangan,” ujar Weny.

Bertambahnya jumlah pesanan menjadi kendala tersendiri. Mereka kesulitan mencari tambahan tenaga kerja untuk memenuhi target pesanan. Jalan keluarnya, mereka seringkali bekerja hingga larut malam. Berbagai masukan dari pelanggan menjadi perhatian mereka.

Yono dan Weny sendiri sama sekali tidak mempunyai latar belakang pengetahuan soal tas. Awalnya mereka membongkar tas yang mereka beli. Dari situ mereka mengetahui struktur sebuah tas dan belajar membuat mal. “Sekarang, hanya dengan melihat sebuah tas. Saya bisa membayangkan mal yang harus dibuat,” ujar Yono.

Kini mereka sedikitnya mempunyai 50 macam model dompet dan tas. Selain dompet dan tas mereka juga memroduksi sandal, tempat pensil dan kotak hantaran lamaran. Meskipun berbahan dasar kertas, semua produknya tahan air, hal itu berkat formula yang diuji coba puluhan kali.

Untuk mengembangkan usahanya, mereka melakukan pelatihan di beberapa sentra UKM di Sidoarjo. Mereka berharap usaha daur ulang dari kertas semen semakin dikenal luas sehingga bisa mengurangi limbah sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja. Saat ini tas berbahan sak semen buatan mereka telah menyebar di banyak kota berkat penjualan secara online.tria

Komentar