Wiganingsih, M.Pd : Menjadikan Generasi Milenial Perlu Sentuhan Guru Yang Ikhlas

Wigatiningsih M.Pd Kasek SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

        Sekolah sebagai lembaga atau institusi yang bergerak di bidang pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan bernegara. Sebagai institusi pendidikan, peran melekat menjadikan insan yang ada di dalamnya mau tidak mau harus dijalankan.

      Selain kemampuannya melakukan tata kelola atau manajemen, sekolah tersebut dituntut mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. SDM yang ada di dalamnya meliputi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan maupun peserta didik atau siswa. Tentu tidak lepas juga dari dukungan komite dan stakeholder yang ada.

        Salah satu fungsi sekolah adalah menjual layanan kepada siswa. Siswa yang dilayani pada era ini masuk pada generasi milenial. Yaitu generasi yang berusia balita sampai 21 tahun. Menurut banyak sumber dikatakan bahwa generasi milenial itu adalah generasi yang sangat cepat dan mudah mengakses, menerima, dan sekaligus melakukan perubahan dalam kaitannya dengan pemanfaatan teknologi.

          Tidak jarang siswa di sekolah itu memiliki kemampuan kognitif dan psikomotor yang lebih dari gurunya. Hal ini sangatmungkin ketika siswa itu bagian dari generasi milenial yang sangat aktif mengakses teknologi kapan dan dimana saja. Rasa ingin tahu yang meluap-luap menjadikan mereka sangat cepat merespon setiap perubahan. Sementara tidak sedikit guru, yang masih berkutat pada modul yang ia miliki.

       Hal di atas sebanding dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan dari UniversitasAuckland Australia, Profesor John Hattie dalam bukunya Visible Learning. Bahwa kesuksesan belajar siswa setara SMA itu ditentukan oleh siswa itu sendiri. Namun demikian ada banyak faktor yang menjadikan anak tersebut sukses dalam belajarnya. Beliau menjelaskan faktor yang mempengaruhi kesuksesan siswa adalah: 7 % berasal dari lingkungan rumah dalam hal ini anggota keluarga; 7% berasal dari teman pergaulannya; 7% berasal lingkunagn sekolahnya; 30% dipengaruhi guru di sekolahnya; dan sisanya 49% keberhasilan itu ditentukan oleh siswa itu sendiri.

      Guru di sekolah pun beragam latar belakang kemampuannya baik secara kognitif maupun psikomotor. Tugas utama guru adalah men-transfer ilmu pengetahuan. Sering kali terjadi ketidak singkronan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian? Karena seringnya terjadi perbedaan antara cara mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Dengan demikian sering muncul miskomunikasi antara guru dan siswa.

        Tugas guru yang lain yang tidak kalah penting dari dua hal di atas adalah menumbuhkan budi pekerti pada siswa atau men-transfer nilai-nilai. Dalam bahasa pendidikan, budi pekerti atau nilai-nilai karakter biasa disebut afektif. Namun hal ini harus didahului dengan adanya budi pekerti yang luhur pada para guru. Maka sesungguhnya yang perlu didahulukan adalah bagaimana stakeholder yang ada di tingkat atas yang menaungi pendidikan, memastikan bahwa semua guru yang nantinya terlibat dalam proses belajar mengajar memiliki budi pekerti yang luhur.

          Sesungguhnya tugas berat sebagai guru di sekolah menjadi lebih berat. Kalau di dalam agama Islam, pembentukan akhlak atau budi pekerti itu harus sesuai dengan tuntunan ajaran utusan Tuhan atau Allah yaitu Nabi Muhammad. Maka sekolah itu melalui kurikulumnya, dituntut memuhammadkan diri seseorang itu. Sebelum guru itu memuhammadkan siswanya terlebih dulu harus memuhammadkan didi sendiri. Salah satu cirri memuhammadkan diri adalah menyempurnakannya dengan karakter atau akhlak mulia. Maka sesungguhnya sebelum Permendikbud no. 23 tahun 2016 itu diluncurkan, sekolah terlebih dahulu punya kewajiban menyempurnakan karakter atau akhlak para siswanya melalui pendidikan agama.

          Maka guru dituntut selalu melakukan pengembangan diri dengan berbagai cara baik secara individu maupun kelompok. Hal itu bisa dilakukan melalui studi lanjut, diklat, workshop, seminar, MGMP, dan majelis taklim dan yang sejenisnya. Hal itu bisa dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah.

          Namun yang lebih penting dari itu bahwa tugas kita sebagai guru adalah melengkapi siswa-siswa kita dengan sentuhan karakter atau akhlak. Sepandai apapun siswa menguasai teknologi, tidak bisa membentuk karakternya. Karena untuk mengembangkan karakter itu memerlukan sentuhan guru-guru yang luar biasa. Karakter siswa itu bisa berkembang karena keikhlasan guru mendidik siswa dengan luar biasa.

         Guru mengajar itu kewajiban, dan guru mendidik itu sebuah keniscayaan. Jika itu sudah dilakukan oleh semua guru di negeri ini maka kelak akan lahir generasi milenial Indonesia yang berakhlakulkarimah. Generasi itulah yang ditunggu oleh negeri ini di era 2045. (Wigatiningsih, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo).

Komentar